Setelah melakuan pembukaan port forwarding cctv anda, sekarang saat nya anda mengecek apakah settingan port forwarding anda sudah benar atau belum, dengan langkah sbb :
1.      Buka web browser anda dan buka http://canyouseeme.org
2.      Masukkan port yg sudah di buka ke dalam kotak dan klik check

3.      Lakukan berulang jika anda membuka port lebih dari 1.
4.      Terima kasih dan semoga bermanfaat bagi anda.

Sumber : lensacctv.blogspot.com

Read More..



Digital Video Recorder yang satu ini (Avtech KPD 674 ZA) memang sudah sangat populer di kalangan mengguna dan pemerhati CCTV. Selain harganya yang cukup ekonomis, fitur-fitur yang dihadirkan pun tidak kalah dibandingkan dengan DVR kelas atas lainnya.

Walaupun tidak asing di telinga kita, ternyata DVR tersebut menyimpan rahasia yang belum pernah atau sedikit dari kita yang mengetahuinya. Salah satunya cara hard reset DVR tersebut.

Kebanyakan dari kita me-reset atau kembali ke pengaturan awal (default pabrik) dengan menggunakan menu yang tersedia (password default “0000”). Tapi pernahkah kita temui kasus “lupa password” ? Solusi dari kebanyakan orang yaitu dengan membongkar casing dan melepas baterai CMOS. Akan tetapi hal tersebut sama saja tidak berarti atau sia-sia.

Kami mempunyai solusi jitu mengatasi hal tersebut yaitu dengan Hard Reset, langkah-langkahnya seperti dibawat ini :
  • Lepaskah penutup DVR bagian atas (casing DVR), dan cari chip resistor untuk mengatur ulang perangkat DVR tersebut
  • Chip resistor tersebut biasanya diberi kode TP5/TP6 dan letaknya berada didekat IC CMOS, X-TAL, atau bahkan didekat port USB. Seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

                  

  • Lepaskan Power DVR dari aliran listrik (Adaptor DVR), kemudian hubungkan pendek / konsletkan resistor tersebut (TP5 dan TP6) dengan benda konduktor (kabel/kaki komponen.obeng). Sambil ditahan nyalakan DVR dengan menghubungkan lagi Power DVR (adaptor DVR) ke aliran listrik dan nyalakan tombol power DVR.
  • Setelah DVR menyala (proses booting) dan terdengar bunyi beep sekali, lepaskan segera benda konduktor (kabel/kaki komponen/obeng) pada TP 5 dan TP 6.
  • Dan lihat hasilnya



Sumber : lensacctv.blogspot.com

Read More..



Pernahkah anda mengalami hal yang menjengkelkan ini? Saat diperlukan, tiba-tiba DVR kita tidak berisi rekaman apa-apa. Lebih parah lagi tombol-tombolnyapun malah jadi macet, termasuk Remote Control pada DVR Standalone. Persoalan klasik ini kerap menimpa pada DVR setelah sekian lama pemakaian dan tentu saja sangat mengganggu. Terlebih lagi jika ada kejadian yang perlu dilihat sebagai "babuk" (barang bukti) kepolisian,   namun rekamannya tidak ada alias blank. Lalu, bagaimanakah kiat agar DVR kita selalu dalam kondisi siap pakai? Berikut ini opini kami.

1. Kenali Dulu Sumber Masalahnya
Panas yang berlebihan kami tuding pertama kali sebagai penyebab utama masalah ini. Bayangkan saja, DVR umumnya dioperasikan selama 24 jam non-stop siang dan malam. Jika sudah begini, maka kualitas dari komponen penunjang merupakan faktor penentu "survive" atau tidaknya suatu produk DVR, baik yang Standalone maupun PC Base. 

Sumber panas DVR Standalone bisa berasal dari:
  1. Bagian Power Supply, khususnya yang ada di dalam casing (built-in).
  2. Komponen pada Mainboard, khususnya IC Voltage Regulator, IC Prosesor dan IC Codec.
  3. Hard Disk.
Nah, dua atau tiga sumber panas inilah yang secara kontiyu "menyumbang" thermal di dalam casing DVR. Kontributor panas terbesar dipegang oleh Hard Disk, disusul oleh IC Prosesor dan bagian Power Supply. Khusus untuk hard disk, kami telah bahas uraiannya di sini. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan jika pada DVR Standalone selalu terpasang kipas angin kecil (fan), baik di bagian belakang ataupun di sisi kiri-kanan casing. Jumlahnya kebanyakan hanya satu, jarang dijumpai yang dua apalagi tiga. Anehnya, pihak pabrikan seolah-olah menyepelekan soal isu thermal ini. Buktinya, pada beberapa merk DVR Standalone pemasangan fan ini terkesan dilakukan "ala kadarnya", bahkan ada yang tanpa fan samasekali! Selain ukurannya kecil, posisinyapun tidak signifikan dalam upaya membuang panas ke luar. Dengan mengabaikan model dan jumlah blade,  fan berukuran kecil umumnya memiliki daya hisap dan hembus yang lemah. Apalagi jika dipasang hanya satu dan letaknyapun berjauhan dari ketiga sumber panas tadi, maka kecepatan maupun daya hisapnya menjadi tidak efektif. Pernahkah anda memperhatikan dengan seksama kondisi seperti ini?

Jika kami ditanya, dimanakah pemasangan fan yang ideal untuk DVR Standalone? Maka kami jawab :
  1. Tepat di atas prosesor (seperti pada prosesor PC).
  2. Tepat di atas atau di bawah Hard Disk (dengan ventilasi yang langsung).
  3. Tepat di dekat Power Supply (jika power supply-nya ada di dalam casing).
 Hanya saja kami harus realistis dalam masalah ini, sebab:
  1. Memasang banyak fan akan menaikkan ongkos produksi yang tentu saja berimbas pada harga DVR.
  2. Fan menimbulkan kebisingan yang cukup sangat mengganggu.
  3. Sekecil apapun, fan tetap akan menyerap daya. Makin banyak jumlahnya, maka daya yang diperlukan akan semakin besar. Artinya, kapasitas power supply mesti ditambah dan sekali lagi ini akan menaikkan ongkos produksi.
Jadi, jangan protes apabila DVR kita hanya dibekali dengan fan yang "ala kadarnya", bahkan yang lebih "gila" tanpa fan sama sekali! Fan yang efektif bisa diketahui dari ukuran, jenis blade dan penempatannya. Selain itu ada yang ketinggalan, yaitu parameter rpm (revolutions-per-minute). Makin cepat rpm, tentunya makin baik, karena hembusan fan akan makin kuat. Ukuran fan minimal harus sedang dan berbahan kokoh, jangan yang kecil dan lembek. Bentuk blade juga memengaruhi. Ada yang banyak, tipis dan melengkung, adapula yang renggang, tebal dan lurus. Namun, untuk soal teknis ini biarkanlah para insinyur yang memikirkannya. Apa yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas menilai apakah fan ini sudah efektif atau belum. Lalu, perlukah kita memasang fan tambahan?

Bagaimana dengan hard disk? Menurut kami justru hard disk inilah yang semestinya diberi cooling fan. Cuma sekali lagi, pabrikan seolah-olah tidak menaruh perhatian pada soal ini. Hal ini terlihat dari ukuran casing DVR yang umumnya sempit, sehingga tidak menyisakan ruang bagi hard disk untuk ditambahkan fan. Padahal dalam PC, penambahan fan pada hard disk ini bukanlah sesuatu hal yang baru, bahkan diyakini dapat meningkatkan kinerja dan kestabilan harddisk. Nah, apalagi untuk DVR yang kerja hard disknya jauh lebih berat ketimbang PC, maka logikanya penambahan fan ini mestinya menjadi isu penting, bukan?

Demikian pula soal ventilasi. Ventilasi pada Standalone DVR umumnya tidak berada tepat di atas ataupun di bawah sumber panas (misalnya hard disk), melainkan di belakang atau di pinggir. Ini bisa menimbulkan persoalan serius. Saat casing ditutup, jarak hard disk dengan penutup casing ataspun terbilang sempit, bahkan nyaris tidak meninggalkan celah. Ada pula DVR yang jarak antara hard disk dengan mainboard-nya sangat dekat. Jika sudah demikian,  DVR seolah-olah bagaikan sebuah "oven". Jadi, tanpa ventilasi dan fan yang baik, jangan heran jika satu saat DVR akan "ngadat", seakan-akan tidak merekam

Menghadapi situasi ini, cobalah periksa apakah memungkinkan jika kita menambahkan extra fan di dalam casing? Jika mungkin tambahkanlah fan kecil 12VDC di atas hard disk dengan bantuan double-tape (isolasi bolak-balik) atau belilah hard disk cooler. Carilah sumber 12VDC yang "nganggur". Jika tidak mungkin cobalah di lokasi lainnya, namun tetap di dalam casing. Tujuannya adalah untuk membuyarkan "panas dalam" yang tidak terhisap oleh fan utama.
 Contoh Cooling Fan DC 12V

Apabila di dalam casing sudah demikian sempit (dan memang kebanyakannya begitu!), maka carilah alternatif lain, yaitu lubang ventilasi. Tempatkanlah extra fan di depan atau di atas ventilasi ini dengan arah menghisap (exhaust). Oleh karena di luar, maka fan 220VAC tampaknya lebih reasonable, karena kita tinggal menancapkannya pada stop kontak. Namun, kerugian fan model ini adalah bunyinya yang mengganggu. Oleh karena itu, pemasangannya harus baik (kokoh), sehingga casing tidak ikut bergetar karenanya. Salah satunya adalah dengan bantuan double-tape tebal di setiap tepinya.

                                                  Contoh Cooling Fan AC 220V

2. Tetapkanlah Durasi Rekaman
Kendati DVR bisa merekam selama satu bulan penuh, namun ada baiknya jika kita menetapkan waktu rekaman yang lebih pendek, katakanlah per satu minggu. Ini dimaksudkan agar pemeriksaan bisa dilakukan dengan lebih intensif, sehingga masalah "tidak merekam" ini bisa diketahui lebih awal. Jadi, saran kami lupakanlah hard disk-hard disk besar, apalagi sampai hitungan Tera (1 TB = 1000 Giga!), kecuali jika anda berniat membangun Video Server sendiri. Percaya atau tidak, hard disk berkapasitas kecil sampai sedang umumnya sudah mencukupi untuk rekaman selama 1 minggu pada 15 fps. Pada akhir pekan, misalnya Sabtu pagi, kita bisa meluangkan waktu untuk sekedar mengecek kondisi DVR kita sambil melihat hasil rekaman pada minggu itu. Jika ada rekaman penting, segera lakukan backup melalui USB Flash Disk atau media lain yang disediakan, yaitu CD/DVD RW. Namun jika tidak ada kasus penting, maka lakukanlah format terlebih dahulu sebelum memulai rekaman baru. Pastikan pula tampilan jam dan tanggal pada DVR kita tidak "ngaco". Jika tidak punya waktu, anda bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya.

Untuk menetapkan lamanya DVR bisa merekam dan berapa kapasitas hard disk yang diperlukan, kita bisa menggunakan alat bantu hitung yang disebut dengan HDD Space Calculator. Program ini biasanya sudah ada pada pada menu DVRitu sendiri (jenis Standalone). Namun jika tidak dijumpai, kita bisa mencarinya di beberapa situs internet.

3. Pilih Mana: Manual, Continuous,  Schedule, Motion atau Sensor?
Umumnya DVR memiliki 5 mode rekaman seperti yang disebutkan di atas, yaitu : 
  • Manual        
    DVR merekam saat tombol Rec ditekan dan stop saat tombol Stop/Rec ditekan (lagi).
  • Continuous 
    DVR merekam terus secara non-stop, termasuk saat kita sedang melihat hasi rekaman (playback).
  • Schedule 
    DVR merekam pada jam tertentu yang diprogram, misalnya dari jam 8 pagi sampai 5 sore.
  • Motion       
    DVR hanya merekam saat ada gerakan objek (misalnya aktivitas manusia, kendaraan lewat dan sebagainya). Jika tidak ada objek bergerak, maka DVR tidak merekam (Standby).
  • Sensor       
    DVR hanya merekam saat input sensornya terlanggar (trigger), misalnya saat pintu dibuka atau orang melewati sensor infra red.
Nah, pilihlah mode yang paling pas untuk keperluan kita. Contoh: untuk memantau aktivitas Teller di Bank, paling pas jika kita memilih mode Schedule (misalkan dari jam 8 sampai 18) ketimbang Continuous. Untuk gudang spare parts, misalnya, pertimbangkanlah untuk memakai mode Sensor, dimana saat karyawan masuk (membuka pintu) DVR merekam dengan batas waktu tertentu (misalnya 2 menit). Sedangkan untuk rumah tinggal, mode Continuous lebih cocok ketimbang Motion atau yang lainnya. Alasannya adalah, mode ini paling mudah dalam setting dan paling mudah dianalisa. Dengan berpatokan pada durasi rekaman 1 minggu, maka kasus-kasus dimana DVR tidak merekam dapat diketahui lebih awal. 

Lalu, bagaimanakah jika kita mencampur beberapa mode rekaman sekaligus? Misalkan di Channel 1 kita memakai Motion, Channel 2 Continuous, Channel 3 katakanlah memakai mode Schedule dan seterusnya? Apakah yang akan terjadi?

Apapun yang terjadi, saran kami jika tidak terpaksa jangan memakai berbagai mode perekaman dengan dalih menghemat hard disk. Cara ini memang bisa dilakukan, tetapi akan berdampak negatif pada sistem. Memakai mode rekaman yang berbeda-beda di setiap Channel menyebabkan sistem cenderung tidak stabil (paparan untuk soal ini lumayan panjang, namun bagaimana dengan pengalaman Anda?). Selain itu, perhitungan mengenai durasi rekamanpun menjadi tidak bisa dilakukan, sebab variabelnya tidak menentu. Maka dari itu, jangan heran jika ada merk DVR yang malahan tidak bisa melakukan hal ini. Artinya, semua Channel hanya bisa memakai mode rekaman yang sama (tidak bisa dicampur). 

4.  Pastikanlah indikator rekaman benar-benar tampil pada display
Pesan ini terdengar lucu, tetapi tidak ada salahnya jika kami ingatkan kembali, sebab ini adalah indikator satu-satunya bahwa DVR kita telah melaksanakan fungsinya dengan benar. Indikator ini bisa berupa tulisan REC, bulatan merah, simbol orang (mode Motion) atau tanda jam (mode Schedule). Pastikan pula OSD (On Screen Display) untuk mode ini tidak dibuat Disable.

5. Waspadailah Overwrite
Seringkali kita tidak bisa memastikan kapan rekaman kita mulai ditimpa dengan rekaman baru (overwrite) dan bagian mana saja dari hard disk yang masih tersisa. Hal ini dikarenakan karakteristik penghapusan pada DVR tidak sama persis dengan pita analog. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengamatan secara seksama kapan rekaman ini benar-benar habis. Gunakan utility Space Calculator dan sebagai pendekatan ambillah durasi 1 minggu. Catatlah hasilnya. Overwrite menyebabkan rekaman lama kita menjadi hilang dan tidak bisa kembali lagi. Oleh karena itu waspadilah hal ini dan kalau perlu buatlah pilihan ini menjadi Disable dulu, paling tidak sampai kita benar-benar memahami karakteristik DVR kita.

6. Jangan Lupa Backuplah Program Setting
Jika performa DVR kita sudah memuaskan, maka jangan lupa untuk men-save setting programnya ke dalam flash disk melalui menu Backup Settings atau menu yang semisalnya. Jadi saat DVR kita "ngadat" dan kebetulan vendor "berbaik hati" untuk menggantinya dengan DVR baru yang sejenis, maka kita tidak perlu repot lagi men-setting ulang DVR baru ini dari awal. Cukup kita me-Restore saja settingan yang sudah di-save tadi ke DVR pengganti melalui menu Restore Settings.


download artikel (pdf)
Sumber : tanyaalarm.blogspot.com
Read More..


Power Supply Camera
Secara umum, camera CCTV menggunakan salah satu dari 3 (tiga) jenis power supply berikut ini, yaitu:
  1.  Tegangan 220VAC
  2.  Tegangan 24V AC.
  3.  Tegangan 12V DC.
Camera 220VAC
Camera 220VAC umumnya memiliki ukuran besar, karena power supply-nya diletakkan di bagian dalam. Sebelum ditemukan power supply dari jenis switching,  camera-camera tempo dulu pada umumnya berukuran raksasa, karena memakai transformer konvensional, sehingga memerlukan casing yang besar. Camera masa kinipun masih ada yang menggunakan sumber 220VAC, umumnya dari jenis standard camera. Camera jenis 220VAC ini terlihat lebih praktis, karena tidak memerlukan adaptor plug-in (tancap) yang notabene bisa mengganggu estetika ruangan, jika adaptor ini dipasang secara outbow. Adapun kekurangan camera tipe 220VAC ini adalah bentuknya yang besar dan hampir tidak ada yang berjenis dome. Selain itu, karena rangkaian power supply-nya berada di dalam, maka faktor panas perlu mendapat perhatian. Jadi, diperlukan rangkaian yang benar-benar efisien supaya panasnya tidak mengganggu komponen lain di dalam casing. Camera 220VAC masa kini biasanya menggunakan power supply dari jenis switching di bagian dalamnya.

Camera AC tidak memerlukan analisa tentang bagaimana mendistribusikan powernya, sebab tegangan 220V bisa merambat pada kabel listrik dalam jarak yang cukup jauh tanpa khawatir drop. Bahkan dapat dikatakan, untuk camera jenis AC hampir tidak dijumpai isu mengenai drop tegangan pada kabel, kecuali isu sumber tegangan 220V-nya yang tidak stabil (naik-turun).
Selanjutnya, kelebihan yang menonjol dari camera AC220V adalah:
  1. Praktis dan instalasinya tidak ribet.
  2. Tidak khawatir terjadi loss pada kabel powernya.
 Sedangkan kekurangannya antara lain:
  1. Bentuknya besar.
  2. Jarang ada yang berjenis dome.
  3. Faktor panas.
  4. Kerusakan pada bagian power supply akan mencopot semua unit, karena tidak memakai adaptor plug-in.
  5. Memerlukan lubang yang besar untuk memasukkan steker listrik ke dalam plafon.
  6. Resiko shock-hazard (kesetrum) lebih besar.
Camera 24VAC
Tegangan 24VAC umumnya dipakai pada camera Speed Dome dan beberapa tipe camera standard lainnya. Dibandingkan dengan 220V, tegangan 24VAC ini sebenarnya tidak menyengat (nyetrum), sehingga resiko kena strum relatif tidak membahayakan. Namun, camera jenis ini memerlukan transformer (trafo) 24VAC yang bentuknyapun lumayan besar seperti terlihat pada gambar di bawah (kiri). Sebenarnya trafo ini hanyalah step-down dari 220VAC menjadi 24VAC saja, sehingga tidak memerlukan rangkaian elektronik lagi. Dengan demikian, trafo 24V/5A biasa yang banyak ditemukan di pasaran lokalpun dapat dipakai untuk menyuplai camera branded (seperti gambar sebelah kanan).

Adapun kekurangan jenis Camera 24VAC ini adalah:
  1. Trafo yang terpisah menimbulkan persoalan dalam penempatannya.
  2. Tegangan 24VAC tidak bisa satu kabel dengan data RS-485. 
  3. Tegangan output trafo 24VAC dipengaruhi oleh bagus-tidaknya tegangan listrik 220V.
  4. Trafo yang panas menyebabkan tegangan dan supply arus dari trafo menjadi berkurang.
  5. Trafo lokal yang kurang baik biasanya bergetar. 
Sedangkan kelebihannya adalah:
  1. Drop tegangan pada kabel masih terbilang kecil, sehingga bisa di-supply dari jarak jauh.
  2. Resiko shock hazard hampir tidak ada. 
  3. Tidak memerlukan rangkaian power supply yang rumit.
Camera 12VDC
Inilah topik bahasan kita nanti. Camera masa kini umumnya memakai tegangan 12VDC, sehingga ukurannya lebih kompak alias kecil. Selain itu, faktor panas tidak menjadi isu penting lagi, karena power supply-nya sendiri berada di luar. Namun, manakala sumber listrik dan camera terpisah pada jarak yang berjauhan, maka drop tegangan menjadi isu penting. Oleh sebab itu, perlu diupayakan bagaimana agar power 12VDC ini tetap terjaga dan dapat didistribusikan secara merata. Untuk itulah penenmpatan power distribution menjadi hal penting.

Keuntungan camera jenis 12VDC:
  1. Harga camera umumnya lebih ekonomis.
  2. Ukuran camera menjadi lebih ringkas (kecil).
  3. Harga adaptor 12V dari jenis plug-in non-switching umumnya murah.
  4. Tidak ada resiko shock-hazard.
  5. Kerusakan power supply tidak mencopot camera, tinggal mengganti adaptornya saja.
  6. Tidak ada isu soal panas.
  7. Adaptor dari jenis regulated tetap stabil pada beban dan tegangan listrik 220V yang naik-turun.
Kerugiannya :
  1. Loss tegangan pada kabel sangat signifikan.
  2. Tegangan output adaptor plug-in sangat pas-pasan (kadang terukur 11.9 VDC).
  3. Jika dipusatkan, maka setiap satu camera memerlukan satu adaptor, sehingga perlu colokan listrik (stop kontak) yang berlubang banyak.
  4. Kabel adaptor suka keleweran di belakang camera (merusak estetika).

The Most Common Problem: Drop Voltage!

Diagram di atas memperlihatkan salah satu cara dalam memberikan supply pada camera 12VDC. Sepertinya cara inilah yang paling umum dipakai dalam instalasi camera, terutama di rumah-rumah tinggal. Kabel power ditarik ke pusat monitor dan adaptor plug-in dipasang berjejer pada stop kontak berlubang banyak.

Problematika Utama
1. Drop Voltage (Drop Tegangan). Resiko inilah yang paling sering terjadi, terutama jika kabel untuk power-nya menggunakan kabel tunggal berdiameter kecil (kabel telepon 2 x 0.5mm). Bahkan, untuk kabel telepon yang dekat sekalipun (katakanlah 5m), tegangan pada camera bisa drop secara signifikan. Untuk menguji kualitas tegangan di ujung camera, kita bisa menggunakan tester ST-BT01Q.
2. Poor Video Quality. Akibat power camera yang kurang, maka kualitas gambar yang dihasilkanpun cenderung terganggu. Gambar yang tidak steady, bergaris-garis dan kusam merupakan ciri khas dari camera yang menderita kekurangan tegangan.
3. Interference. Gangguan inipun bisa disebabkan oleh drop tegangan, sehingga mengakibatkan sinyal output camera menjadi lemah (di bawah 1 Vpp). Interferensi ini disebabkan oleh jeleknya angka signal to noise (S/N ratio), yaitu  perbandingan antara sinyal output camera dengan noise yang muncul di sepanjang kabel video (kabel coaxial). Semakin besar nilai S/N, maka kualitas gambar akan semakin baik. Oleh sebab itu sinyal output camera yang kuat menjadi satu keharusan, karena ia akan mengalahkan noise (interferensi). 
4. Need More Space. Adaptor plug-in yang berjajar seperti ini dinilai tidak praktis, karena memerlukan spasi ekstra untuk menempatkan stop kontak berlubang banyak.
5. Need More Times (and wires,too!). Kabel power yang ditarik berdampingan dengan kabel coaxial seperti ini memerlukan waktu instalasi cukup lama dan jumlah kabel yang banyak pula.

Saran
Jika tidak ada cara lain selain memakai cara ini, maka alternatif solusinya adalah: 
  1. Gunakanlah kabel berdiameter besar untuk power, misalnya kabel listrik jenis NYMHY 2x0.75mm yang berbentuk pipih atau sejenisnya.
  2. Gunakanlah adaptor yang unregulated (walaupun jarang ada di pasaran). Adaptor tipe ini memiliki tegangan output 16VDC - 18VDC (tanpa beban), sehingga saat sampai di ujung camera, tegangannya masih di atas 12VDC.
  3. Boleh juga menggunakan variable power supply, yaitu power supply yang tegangan outputnya bisa diatur melalui putaran potensiometer.
The Smarter Way
Cara yang lebih "cerdas" adalah menempatkan adaptor plug-in di dekat camera tanpa melalui kabel penyambung. Keuntungan yang bisa diperoleh melalui cara ini, diantaranya:
  1. Tidak ada drop tegangan dan sinyal video menjadi lebih sempurna.
  2. Sumber listrik 220V bisa diambil dari mana saja, sehingga instalasi kabel coaxial lebih rapi.
  3. Noise dan interferensi bisa diminimalisir.
Namun dalam implementasi di lapangan, cara ini memerlukan pengerjaan yang cukup detail dan "memakan biaya". Supaya dudukannya kokoh, maka adaptor plug-in memerlukan stop kontak outbow yang (sebaiknya) ditempatkan di dalam box plastik atau metal. Selain itu, pemasangan box adaptor di dalam plafon memerlukan pekerjaan melubangi plafon. Jelas hal ini sedikit memakan waktu. Kabel adaptorpun perlu dilindungi oleh flexible plastic conduit agar tidak dimakan tikus. Beberapa kelengkapan tersebut terlihat pada gambar di bawah ini:

Adakalanya material tambahan di atas dirasakan costly (terutama oleh marketing!). Jika demikian, maka stop kontak outbow bisa dipasang langsung pada dinding seperti ilustrasi di bawah ini.
Untuk sementara abaikanlah dulu soal layout dan kerapian kabel, karena kami hanya sekedar ingin menggambarkannya untuk anda! Kami percaya anda bisa melakukannya dengan lebih rapi lagi. Point penting di sini adalah letak adaptor plug-in yang dekat dengan camera terbukti efektif dalam banyak hal. Selain murah, hasilnyapun tidak kalah bagus dengan pemakaian sentral Power Box yang berharga mahal. Tetapi kadangkala tuntutan desain CCTV yang profesional mengharuskan kita "melirik" pada pemakaian Camera Power Supply Distribution Box.

Another Good Way
Cara lain yang cukup bagus adalah menempatkan box power supply sedekat mungkin dengan camera. Untuk itu kita bisa menggunakan unit Power Distributor dan satu buah Adaptor Switching 12V/4A untuk menggantikan 4 unit adaptor plug in. Dengan cara ini instalasi menjadi lebih kompak dan tampak (sedikit) profesional. Faktor yang harus dimasukkan ke dalam pertimbangan adalah:
  1. Gunakan kabel power yang berkualitas baik (misalnya NYMHY 2x0.75mm yang pipih).
  2. Gunakan cable shoes untuk sambungan kabel pada terminal Power Distributor.
  3. Tempatkanlah box pada lokasi aman, tapi mudah dijangkau saat melakukan maintenance.
  4. Memasang lampu indikator atau Volt-Ampere meter pada box merupakan ide yang baik (walau sedikit costly!). 
 
Pemilihan adaptor switching disebabkan bentuknya lebih kecil daripada power supply biasa dengan kemampuan arus yang sama. Lebih jauh lagi, adaptor switching memiliki efisiensi yang baik, sehingga bisa dioperasikan terus menerus dalam waktu lama. 

The Professional Way
Menggunakan power supply yang handal merupakan tuntutan bagi instalasi CCTV yang profesional. Seperti yang tampak pada ilustrasi sederhana di atas, kami lebih memilih power supply dari jenis switching ketimbang analog (linear). Alasannya sederhana, yaitu faktor efisiensi. Camera CCTV pada umumnya dioperasikan 24 jam non-stop, sehingga memerlukan power supply yang konstan dan relatif "dingin". Power supply switching bisa menjawab persoalan ini, karena bekerjanya sangat efisien. Pabrikan terkemuka telah  mengeluarkan banyak variasi power supply untuk camera, baik tipe switching maupun linear (analog) dengan tegangan output 12VDC ataupun 24VAC. Contohnya seperti pada gambar di bawah ini:
 Tipe Linear (ukuran trafo besar)
 Tipe Switching (tanpa trafo power)

Sekali lagi -apapun jenisnya- penempatan power supply menjadi hal penting dalam desain CCTV, karena ini menyangkut "mati-hidupnya" camera. Kebutuhan arus total camera perlu dimasukkan dalam perhitungan. Umumnya satu camera 12VDC hanya memerlukan arus yang kurang dari 500mA saja, sehingga secara teoritis adaptor plug in 1000mA (1A) sudah memadai. Persoalan yang kerap muncul di lapangan adalah drop tegangan. Ini disebabkan oleh kabel DC yang terlalu panjang, bukan dari ampere adaptor yang kurang.

Untuk diagram 4 camera dome di atas, maka power supply 12VDC berkapasitas 2A (2000mA) sudah memadai, karena kebutuhan arus camera tidak lebih dari 500mA (tepatnya sekitar 320mA). Tentu saja diagram di atas termasuk sederhana. Untuk desain yang kompleks, beberapa power supply kecil untuk setiap 4 camera lebih disukai ketimbang satu power supply besar yang meng-handle 16 camera sekaligus. Alasannya adalah: saat terjadi trouble pada power supply, kita masih memiliki beberapa camera yang hidup. Berbeda jika kita menggunakan satu unit power supply besar, maka trouble power supply menyebabkan semua camera menjadi lumpuh.

Beberapa vendor yang "kreatif" adakalanya merakit power supply sendiri demi  menekan tingginya cost (walau sejujurnya kami sendiri tidak meyakini signifikansinya!). Dalam hal rakit-merakit ini setidaknya ada 2 (dua) faktor yang perlu diperhatikan, yaitu: kualitas komponen dan keserasian layout. Kualitas komponen elektronik di pasaran lokal umumnya tidak setara dengan komponen pabrik (kecuali jika kita merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan komponen yang high grade!). Jadi, kehandalan (durability) power supply rakitan lokal umumnya masih di bawah buatan pabrik, sekalipun sang perakit mengklaim sebaliknya. Jika diadakan perbandingan harga, maka selisihnya tidak signifikan. 

Faktor kedua adalah soal keserasian layout komponen, terminal dan PCB di dalam box. Jika kita perhatikan gambar power supply buatan pabrik di atas, maka kita dapati satu layout yang bagus dan sedap dipandang mata. Hal ini jarang dijumpai pada power supply rakitan lokal, kecuali pada UPS lokal merk ternama.

Namun, jika kita ingin memakai power supply rakitan, hendaklah dihitung dulu dengan cermat apa plus minusnya. Kendati di atas kertas tampak "lebih murah", tetapi jika harga accessories dimasukkan, maka power supply rakitan malah bisa jadi lebih mahal ketimbang yang sudah jadi. Belum lagi harga box panel dan waktu untuk mengerjakannya.

Pada bahasan mendatang, kami akan mengangkat topik (menarik): perlukah power supply backup pada saat listrik mati? Lalu, sampai seberapa baguskah performance UPS dalam hal ini? Bagaimana pula management yang baik saat terjadi power failure?

download artikel (pdf)
Sumber : tanyaalarm.blogspot.com

Read More..